Opini: Ketika Potensi Generasi Berada Dalam Genggaman Korporasi

46

Syiarmedia.id, Makassar – Generasi unggul terlahir dari sistem pendidikan yang mumpuni. Visi dan misi pendidikan ideal bertujuan mencetak insan yang berkualitas, guna menjadi pemimpin peradaban bangsa. Seiring kemajuan zaman dan pesatnya perkembangan teknologi, mampukah sistem pendidikan negeri ini berjalan beriringan dan mewujudkan generasi tersebut?

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Google, Gojek, Tokopedia, dan Traveloka menyelenggarakan program Bangun Kualitas Manusia Indonesia (Bangkit) 2021.

Bangkit merupakan program pembinaan 3.000 talenta digital terampil guna menyiapkan sembilan juta talenta digital terampil pada tahun 2030. Program ini ditawarkan kepada mahasiswa di semua perguruan tinggi Indonesia untuk dapat mengimplementasikan Kampus Merdeka melalui studi/proyek independen untuk mendapatkan kompetensi di bidang machine learning, mobile development, dan cloud computing (kompas.com, 8/1/2021).

Melansir laman resmi Bangkit 2021, pada akhir program, mahasiswa akan dibekali dengan keahlian teknologi dan soft skill yang dibutuhkan untuk sukses berpindah dari dunia akademis ke tempat kerja di perusahaan terkemuka.

Jika melihat sepintas program di atas, terkesan sangat bagus. Beberapa waktu lalu, paket Link and Match dengan industri untuk lulusan pendidikan vokasi pun sudah diluncurkan. Harapannya, agar lulusan memiliki kompetensi yang dibutuhkan industri. Kesemua hal tersebut menegaskan arah kebijakan pendidikan Indonesia, yakni berkolaborasi dengan korporasi.

Tentu hal ini tidak sesederhana yang kita bayangkan. Pasalnya, kondisi negeri yang sudah porak-poranda terlilit utang ribawi ditambah pandemi yang masih menyelimuti hampir seluruh wilayah, menyebabkan semua hal menjadi sulit. Ditambah lagi, di awal tahun 2021, bencana alam terjadi dimana-mana. Kondisi ini makin memperparah beban rakyat.

Karakter Dasar Korporasi

Jika ditelisik lebih jauh, program Bangkit bukan jaminan solusi atas karut marutnya sistem pendidikan. Menyerahkan potensi unggul kepada korporasi menjadikan generasi terlahir sebagai mental buruh, bukan pelopor industri atau peradaban. Sebab, korporasi adalah suatu badan usaha yang endingnya adalah materi. Untung rugi adalah keniscyaan yang melekat padanya. Jika demikian, maka akan terlahir generasi-generasi yang hanya fokus pada capaian materi. Sungguh sangat disayangkan.

Kondisi semacam ini tercipta karena sistem pendidikan sekuler kapitalis yang diadopsi. Tujuan pendidikan nasional yang termaktub dalam UUD 1945, hanyalah slogan belaka tanpa implementasi yang jelas. Potensi unggul generasi dikebiri atas nama kapitalisasi pendidikan. Padahal, potensi tersebut harusnya diberdayakan dengan tujuan yang jauh lebih visioner yakni sebagai pemimpin peradaban bangsa. Oleh karena itu, negara semestinya men-support penuh untuk mewujudkan hal tersebut, tidak menyerahkan kepada swasta (korporasi). Pertanyaannya, adakah sistem pendidikan yang mampu mandiri dan menghasilkan generasi cemerlang?

Generasi Terbaik

Mari sejenak kita tengok output pendidikan dari sistem pendidikan Islam. Para ilmuan Muslim telah memberikan sumbangsih yang luar biasa. Beberapa bidang ilmu yang melesat kala itu, diantaranya ilmu kedokteran, fisika, optik, arsitektur, geografi, dan astronomi. Sebut saja, Ibnu Sina yang memberikan kontribusi sangat berharga bagi manusia, mempersembahkan temuan-temuan baru. Beliau adalah orang pertama yang menemukan ilmu tentang parasit dan mempunyai kedudukan tinggi dalam dunia kedokteran modern. Selain itu, beliau juga seorang ahli bedah. Temuannya sampai pada tatacara jitu pengobatan kemaluan yang melepuh, dimana temuan ini terus-menerus digunakan sampai sekarang. Masya Allah.

Tentu masih banyak lagi sumbangsih ilmuan Muslim yang dirasakan manusia hingga saat ini. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas,  kegemilangan peradaban Islam yang sungguh mencengangkan bangsa-bangsa lain. Sinergi antara negara dan rakyat atas dasar ketakwaan kepada Sang Pencipta, menghasilkan generasi unggul dan cemerlang.

Tujuan pendidikan dalam Islam salah satunya adalah mencetak generasi berkepribadian Islam, yakni memiliki pola pikir dan pola sikap sesuai hukum syara’. Indikator capaiannya adalah pelaksanaan seluruh kewajiban yang telah dibebankan syariat.

Negara berperan penting dalam memfasilitasi terwujudnya keseluruhan komponen pendidikan. Mulai dari kurikulum, infrastruktur yang memadai, kelengkapan buku-buku, hingga biaya pendidikan secara mudah bahkan gratis. Ditopang oleh sistem ekonomi Islam, instrumen pengelolaan kas negara (baitul mal) bebas riba dan sesuai aturan Ilahi, terbukti mampu. Bahkan dalam kondisi extra ordinary seperti saat ini.

Walhasil, jika ingin menjadikan potensi generasi unggul dan berdayaguna sesuai tujuan penciptaan manusia, maka seyogianya mengambil seluruh hukum Sang Khalik untuk diterapkan di muka bumi. Wallahua’lam bish Showab.

Penulis: Dr. Suryani Syahrir, S.T., M.T. (Dosen Universitas Bosowa sekaligus Pemerhati Generasi)